PEMERIKSAAN SITOPATOLOGI DAN HISTOPATOLOGI
A. Sitopatologi
Istilah “sitologi” berasal dari
kata Yunani “kytos”, yang berarti “wadah”. Sel mengandung banyak bagian (yang
disebut organel), yang masing-masing memiliki fungsi spesifik. Beberapa jenis
organel hadir di semua sel tetapi umumnya bentuk dan kuantitas organel dalam
sel terkait dengan jenis dan fungsi jaringan yang sel menjadi bagiannya.
Sitologi berperan penting karena kondisi medis dan penyakit didiagnosis dengan
pemeriksaan sel-sel yang terkena melalui mikroskop. Hasil pemeriksaan tentang
jenis penyakit/kondisi dan kemajuannya kemudian digunakan untuk
merekomendasikan dan menetapkan pengobatan yang tepat dengan efek pemulihan
tercepat bagi pasien. Efek pengobatan juga dapat dimonitor menggunakan sitologi,
yaitu pemeriksaan sampel sel-sel lebih lanjut untuk menilai keberhasilan
teknik, obat-obatan, atau prosedur yang digunakan.
Sitopatologi atau sitologi merupakan cabang
dari ilmu Patologi Anatomi yang berperan dalam skrinning dan penegakan
diagnosis ditingkatan sel, dengan spesimen yang berasal dari eksfoliasi sel
(pap smear, bilasan dan sikatan), hasil aspirasi dan cairan yang diapuskan pada
kaca preparat dan diwarnai dengan pulasan Papanicolau dan Giemsa atau pulasan
khusus lainnya.
1.
Pemeriksaan
sitopatologi
Terdapat berbagai jenis layanan pemeriksaan sitopatologi yang
dapat tersedia dalam suatu sentra diagnostik, antara lain :
a. Tanpa tindakan :
a) Pemeriksaan Sitopatologi Eksfoliasi
·
Slaid Papsmear
·
Slaid Sputum
·
Slaid hasil sikatan
b) Pemeriksaan Sitopatologi
Cairan :
·
Urin
·
Pleura
·
Asites
·
Kista
·
Dan lain-lain
c) Pemeriksaan FNAB
d) Pemeriksaan blok se
b. Dengan tindakan yang
dilakukakan oleh SpPA
a) Papsmear
b) FNAB
2.
Teknik Pewarnaan
a.
Spesimen sitopatologi diterima 2 jenis yaitu :
a)
Spesimen yang diterima dalam bentuk cairan :
·
Dicocokan kembali antara identitas pada sampel dengan data yang
tertulis pada formulir pemeriksaan
·
Lakukan proses pembuatan slide dengan alat centrifuge dengan
kecepatan 1000rpm selama 5 menit
·
Endapan cairan yang didapat dari proses centrifuge dikocok
hingga homogen dan diapus di sediaan kemudian dilanjutkan dengan fiksasi
seperti pemrosesan sediaan sitologi
·
Pengecualian untuk sediaan sputum, proses pembuatan slaid atau
sediaan tidak menggunakan alat centrifuge dan pewarnaannya pun hanya dengan pewarnaan
Papanicolaou
·
Lakukan pewarnaan sediaan dengan pewarnaan Papanicolaou dan
Giemsa
b) Spesimen yang diterima dalam bentuk sediaan :
·
Dicocokkan kembali nomor dan nama yang tertera pada sampel
dengan data yang tertulis pada formulir pemeriksaan
·
Spesimen dalam bentuk sediaan yang difiksasi dengan alkohol 96%
selama paling sedikit 30 menit, dilanjutkan dengan pewarnaan Papanicoloau
·
Spesimen dalam bentuk sediaan yang difiksasi di udara terbuka
atau disebut fiksasi kering dilanjutkan dengan pewarnaan Giemsa
·
Pengecualian untuk Pap Smear baik yang diterima sudah dalam
bentuk sediaan atau preparat atau yang diambil dengan tindakan dengan dokter
hanya diwarnai dengan pewarnaan Papanicolaou
b. Prosedur pewarnaan Papanicolaou :
a)
Sebelum dilakukan pewarnaan, slide difiksasi terlebih dahulu
selama minimal 30 menit direndam dengan alkohol 96%
b)
Dicuci dengan air mengalir selama 5 menit
c)
Direndam dengan larutan Harrys Hematoxylin selama 3 menit
d)
Dicuci dengan air mengalir selama 8 menit untuk mengembalikan
slide ke kondisi basa stelah sebelumnya menjadi asam karena pewarnaan Harrys
Hematoxylin
e)
Dicelupkan ke dalam larutan alkohol 70% sebanyak 10 deep/celupan
f)
Dicelupkan ke dalam larutan alkohol 96% sebanyak 10 deep/celupan
g)
Dicelupkan ke dalam larutan alkohol absolute sebanyak 10
deep/celupan
h)
Direndam dengan larutan Orange G selama 3 menit
i)
Dicelupkan ke dalam larutan alkohol absolute sebanyak 10
deep/celupan
j)
Dicelupkan ke dalam larutan alkohol 96% sebanyak 10 deep/celupan
k)
Direndam dengan larutan EA (Eosin Alkohol) selama 3 menit
l)
Dicelupkan ke dalam larutan alkohol 96% di 2 tempat yang berbeda
masing-masing sebanyak 10 deep/celupan
m)
Dicelupkan ke dalam larutan alkohol absolute di 2 tempat yang
berbeda masing-masing sebanyak 10 deep/celupan
n)
Dicelupakan ke dalam larutan Xylol di 3 tempat yang berbeda
masing-masing sebanyak 10 deep/celupan
o)
Setelah proses pewarnaan selesai dilanjutkan dengan proses
mounting dengan meneteskan Entellan ke atas objek glass yang sudah dilakukan
pewarnaan kemudian ditutup dengan deck glass
p)
Usahakan tidak ada gelembung udara yang terbentuk saat menutup
objek glass dengan deck glass
q)
Slide siap diperiksa dengan mikroskop
r)
3. Prosedur pewarnaan Giemsa :
s)
Sebelum dilakukan pewarnaan slide difiksasi terlebih dahulu
selama minimal 30 menit direndam dengan Methanol
t)
Buat pengenceran larutan Giemsa dengan perbandingan 1:1 dengan
aquadest
u)
Setelah slide kering, tetesi slide dengan larutan Giemsa yang
sudah dibuat memenuhi seluruh permukaan slide kecuali bagian label
v)
Diamkan selama 8 menit
w)
Bilas slide dengan air mengalir, lalu keringkan
x)
Selanjutnya di mounting dengan meneteskan Entellan ke atas objek
glass yang sudah dilakukan pewarnaan kemudian ditutup dengan deck glass
y)
Usahakan tidak ada gelembung udara yang terbentuk saat menutup
objek glass dengan deck glass
z)
Slide siap diperiksa dengan mikroskop
B.
Histopatologi
Histopatologi merupakan
cabang ilmu biologi yang mempelajari kondisi dan fungsi jaringan dalam
hubungannya dengan penyakit. Histopatologi sangat
penting dalam kaitan dengan diagnosis penyakit karena salah satu pertimbangan
dalam penegakan diagnosis adalah melalui hasil pengamatan terhadap jaringan
yang diduga terganggu.
Secara bahasa, Histopatologi adalah (histos ἱστός
"jaringan", πάθος pathos "menderita", dan
-λογία -logia "studi tentang"), Studi tentang kelainan
jaringan.
Histopatologi dapat dilakukan dengan
mengambil sampel jaringan (misalnya seperti dalam penentuan kanker payudara)
atau dengan mengidentifikasi jaringan setelah kematian terjadi. Dengan
membandingkan keadaan jaringan sehat terhadap jaringan sampel dapat dilihat
apakah suatu penyakit yang diduga benar-benar menyerang atau tidak.
1. Pemeriksaan
Histopatologi
Pemeriksaan
histopatologi adalah pemeriksaan dari jaringan tubuh manusia, di mana
jaringan itu dilakukan pemeriksaan dan pemotongan makroskopis, diproses sampai
siap menjadi slide atau preparat yang kemudian dilakukaan
pembacaan secara mikroskopis untuk penentuan diagnosis. Pemeriksaan
histopatologi berguna untuk menegakkan diagnosa terhadap adanya suatu keganasan
pada jaringan yang mengalami perubahan morfologi . Pemeriksaan ini menggunakan
sampel berupa jaringan tubuh yang diperoleh dari proses operasi ataupun biopsi.
Pemeriksaan Histologi yang biasa dilakukakan adalah dengan metode parafin dan
pewarnaan Hematoxilin Eosin (HE), biasanya spesimen ulkus gaster menggunakan
pewarnaan Giemsa. Spesimen jaringan tubuh yang diterima oleh laboratorium
dengan berbagai macam variasi ukuran.
Pertama,
spesimen jaringan yang masuk, dilakukan identifikasi secara makroskopis dan
potong basah jaringan. Identifikasi makroskopis sampel jaringan tubuh yang akan
diperiksa meliputi ukuran, warna, bentuk, ada tidaknya massa putih pada
potongan melintang sampel jaringan tubuh, serta jumlah blok yang akan dibuat
dari jaringan tubuh tersebut. Setelah sampel jaringan tubuh diidentifikasi
secara makroskopis maka langkah selanjutnya jaringan tersebut akan dipotong
basah dan di prosesing secara otomatis menggunakan tissue processor.
Sampel jaringan tubuh yang akan di proses pada tissue processor berupa
jaringan yang sudah matang dengan ciri-ciri yaitu teksturnya kenyal, padat, dan
tidak terdapat darah pada sampel jaringan tubuh tersebut. Apabila jaringan
tubuh belum matang maka di matangkan dengan cara fiksasi menggunakan buffer
formalin 10 %. Rincian proses yang terdapat pada tissue processor yaitu
sebagai berikut :
Contoh jaringan
Thyroid yang akan diperiksa secara Makroskopis
Proses
pengeblokan jaringan dengan parafin
Reagen dan ProsesingAlat Tissue Processor
|
NO |
REAGEN |
WAKTU |
|
|
1 |
FORMALIN 10 % |
1 JAM |
|
|
2 |
FORMALIN 10 % |
1 JAM |
|
|
3 |
ALKOHOL 70 % |
1 JAM 30 MENIT |
|
|
4 |
ALKOHOL 80 % |
1 JAM 30 MENIT |
|
|
5 |
ALKOHOL 96 % |
1 JAM 30 MENIT |
|
|
6 |
ALKOHOL 100 % |
1 JAM |
|
|
7 |
ALKOHOL 100 % |
1 JAM |
|
|
8 |
ALKOHOL 100 % |
1 JAM |
|
|
9 |
XYLOL |
1 JAM 30 MENIT |
|
|
10 |
XYLOL |
1 JAM 30 MENIT |
|
|
11 |
PARAFIN |
2 JAM |
|
|
12 |
PARAFIN |
2 JAM |
|
|
NB : ADA 12 JUMLAH TABUNG
PADA TISSUE PROCESSOR YANG BERISI REAGEN DENGAN TOTAL WAKTU
16 JAM 30 JAM |
|||
Setelah jaringan di proses
pada tissue processor kemudian dilakukan pengeblokan pada
jaringan tersebut. Blok jaringan yang sudah jadi kemudian dipotong menggunakan
mikrotom dengan ketebalan pita jaringan 5 μm. Pita jaringan yang dihasilkan
dari proses pemotongan mikrotom akan dibuat sediaan pada objek glass untuk
selanjutnya sediaan tersebut dicat menggunakan pengecatan Hematoxilin Eosin
(HE). Rincian prosedur pengecatan Hematoxilin Eosin (HE) yaitu sebagai berikut.
Prosedur Pengecatan Hematoxilin
Eosin (HE)
|
NO |
REAGEN |
WAKTU |
|
1 |
XYLOL |
3 MENIT |
|
2 |
XYLOL |
3 MENIT |
|
3 |
ALKOHOL 100 % |
3 MENIT |
|
4 |
ALKOHOL 96 % |
3 MENIT |
|
5 |
ALKOHOL 70 % |
3 MENIT |
|
6 |
CUCI |
3 MENIT |
|
7 |
HE |
10 – 15 MENIT |
|
8 |
CUCI |
CELUP – CELUP |
|
9 |
EOSIN |
1 MENIT |
|
10 |
CUCI |
CELUP – CELUP |
|
11 |
ALKOHOL 70 % |
3 MENIT |
|
12 |
ALKOHOL 96 % |
3 MENIT |
|
13 |
ALKOHOL 100 % |
3 MENIT |
|
14 |
XYLOL |
3 MENIT |
|
15 |
XYLOL |
3 MENIT |
|
TETESI ENTELAN DAN TUTUP DENGAN DECKGLASS |
||
Sediaan yang sudah di cat kemudian di labeli dan di
crosscheck dengan blok jaringan dan blanko pemeriksaan. Selanjutnya sediaan dan
blanko pemeriksaan diserahkan kepada dokter spesialis patologi anatomi untuk di
diagnosis. Setelah sediaan di diagnosis oleh dokter spesialis patologi anatomi
maka hasil pemeriksaan tersebut dapat diserahkan kepada pasien atau keluarga
yang bersangkutan.
Sumber
Sitopatologi Adalah
Archives - Menurut Para Ahli
https://www.referensiku.id/2020/03/pemeriksaan-sitopatologi-atau-sitologi.html
Good job
BalasHapusMantab👍
BalasHapus👍🏻
BalasHapusJangan lupa like coment
BalasHapus👍🏻
BalasHapus👍
BalasHapusGood Uchi
BalasHapusTngkiu 😊
BalasHapus